Pengalaman Daftar Magang atau Internship di UN PBB - Masnaato
Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pengalaman Daftar Magang atau Internship di UN PBB




Daftar UN Internship

Pengen cerita soal pengalaman lagi nih, kali ini tentang pengalaman cari internship.

Karena tertarik dengan dunia development dan international cooperation, gw berburu info soal kerja di badan2 seperti PBB, World Bank, dan LSM2.Tidak hanya info pekerjaan, juga info internship pun dicari. Sebabnya, banyak yang bilang bahwa jalur untuk bekerja di badan2 seperti itu adalah melalui internship dulu, ketika sudah mengenal lingkungan kerjanya, akan menjadi sebuah nilai plus ketika melamar pekerjaan di dunia itu. Plus lagi, karena untuk jadi staff biasanya butuh berpuluh2 tahun pengalaman (at least 5 tahun deh), jadi kita coba yang terjangkau aja deh.

Salah satu yang sempat jadi impian adalah internship di markas besar PBB. Tapi berhubung markas besar PBB di New York tampak begitu jauh dan tidak terjangkau, cari2 infonya di kantor lokal aja deh. Alhamdulillah dapet kesempatan untuk magang di kantor UNESCO Jakarta. Tapi teuteup, internship di markas besar PBB adalah sebuah mimpi yang tersimpan dalam angan2. “Hasrat” (halah!) terhadap UN internship muncul lagi waktu mulai masuk program Doktor. Soalnya anak2 di departemen lain pada seru gitu internship mentang2 masuk program integrated yang mewajibkan magang. Gak mo kalah, gw juga pengen mengejar hasrat terpendam.

Setelah cari2 info, ternyata syaratnya gak susah. Hanya perlu: 1. Bikin login di situs database UN, 2. Isi biodata dan semacam CV, dan 3. Ngisi form motivation statement (FYI, UN internship dibuka 2 tahun sekali: winter dan summer internship. Untuk timeline dan syarat lengkap, lihat disini). Aplikasi diisi dan dikirim, hati pun senang. Seenggaknya udah pernah nyoba lah, jadi gak terpendam lagi hasratnya.

Ternyata, 4 bulan kemudian, dapat notifikasi kalau diterima. Nah Lho! *mode bingung*.. Gimana dong? Gw baru menyadari bahwa ternyata begitu banyak pertimbangan yang timbul ketika keterima. Kenapa? Berikut beberapa pertimbangan yang sempat muncul, siapa tau bisa berguna buat orang lain yang lagi mikir2 buat daftar UN internship di Markas Besar PBB sono.

1. Tidak dibayar.

Kecuali kalo internnya untuk sebuah proyek tertentu yang memang ada duitnya, lowongan internship di badan2 PBB, lokal maupun internasional, meng-state bahwa “this is unpaid internship“. Selain berimplikasi pada perhitungan finansial, ini juga berimplikasi pada jenis pekerjaan yang ditawarkan dalam internship itu sendiri, dan berapa lama durasi internship tersebut. Pertanyaan utama adalah, apakah benefit UN Internship yang tidak financially-rewarding akan mampu meng-outweigh hal2 lain yang harus kita korbankan (e.g. uang, waktu, tenaga)? Ini perlu dipertimbangkan baik2 dan rasional supaya jawabannya tidak mengikuti perasaan euforia aja karna diterima magang disana.

2. Perhitungan finansial

Implikasi utama dari unpaid internship adalah transportasi, akomodasi, living cost, dan biaya hura2 harus ditanggung sendiri. Sekedar info, saat magang, diperkirakan biaya yang dibutuhkan adalah 5000 USD untuk 2 bulan hidup di NY, minus biaya terbang. Pertanyaan utama adalah, apakah mau dan mampu bayar segitu?

Kalau mampu, no problemo lah ya. Kalau setengah mampu? Maka carilah cara untuk mencari sponsor untuk sisanya, atau mencari cara untuk menekan pengeluaran sesuai budget yang ada. Umumnya, pos pengeluaran yang bisa ditekan adalah transportasi, akomodasi, dan makanan. Setelah dihitung2 dengan asumsi tidak ada biaya untuk berhura2, maka sebenarnya biaya hidup selama 2 bulan di NY bisa dicukupi hanya dengan 3,000 USD.

Untuk biaya terbang, gw mau sharing beberapa link yang kurang relevan untuk situasi gw saat itu, tapi mungkin cukup relevan bagi orang lain. Kalau lagi ada di Indonesia dan masih mahasiswa, bisa ngajuin permohonan ke PKLN. Kemudian ada juga USINDO Travel Grant yang bisa membiayai perjalanan dari Indonesia ke AS (Note: deadline grant adalah setiap tanggal 1 bulan Maret, Juni, September, Desember). Sementara transportasi di dalam kota NY sepertinya bisa dihemat dengan membeli kartu subway bulanan. Opsi2 lain mungkin bisa dieksplor setelah tiba di sana.

Untuk akomodasi yang merupakan pengeluaran termahal di N.Y, ada beberapa cara menghemat. Misalnya bisa mencari teman yang tinggal di N.Y. dan mau ditebengi selama 2 bulan. Biasanya kalau di Jepang, banyak anak PPI (persatuan pelajar Indonesia) yang cukup baik hati dan mau membantu, mungkin cara ini bisa dicoba dengan cari link ke PPI NY (meskipun waktu gw coba, gada balasan). Cara lain adalah mencari penginapan murah, bisa di youth hostel, homestay program, atau bed and breakfast hotel gitu. Gw sempet nemu homestay murah waktu itu, berjudul breezeway bnb (cek disini) yang nawarin furnished room dengan harga 500 USD/bulan plus deposit 100 USD, tapi skarang linknya mati, apa udah bangkrut ya? Kemudian untuk makanan, bisa memanfaatkan jasa situs ini.

Kalau sama skali tidak mampu? Cari sponsor adalah jalan satu-satunya. Berdasarkan pengalaman gw, funding bagi individu untuk keperluan internship ternyata bukan sesuatu yang gampang dicari. Sepertinya sih, karena sifatnya begitu personal dan tidak memberi impact yang cukup bagi organisasi itu sendiri, sehingga gada untungnya buat mereka mendanai internship. Beberapa badan udah gw coba antara lain:

·         Internasional: AWIU (American Women for International Understanding), Asia Society, IREX, AICEF, AAUW, USINDO, Aminef  Jakarta dan Ford Foundation

·         Indonesia: KBRI Washington, KBRI Tokyo, PTRI PBB NY, Konjen NY, Sampoerna Foundation, IA ITB, IA PL-ITB, PKLN Diknas, Perhimpunan Filantrofi Indonesia, the Habibie Center, Yayasan Damandiri, Yayasan Toyota, Yayasan Coca Cola.

·         Jepun: KDDI Foundation, The Asia Foundation

Kalau memutuskan mencari sponsor, saran gw cuma dua: Be Bold, artinya jangan ragu mengirim proposal dana ke sebanyak mungkin lembaga atau individu; dan Be Fast, artinya jangan nunggu diterima internship dulu baru nyari dana. Kenapa? Karena dari masa pengumuman diterima/tidak dalam internship itu, hanya diberi waktu 2 minggu untuk konfirmasi apakah akan mengambil internship ini atau tidak. Ga mungkin kan dapet dana dalam waktu 2 minggu? Ini adalah salah satu kesalahan yang gw buat, makanya proposal dana gw ga ada yang berhasil. Jadi saran gw, begitu abis daftar internship, langsung gerak cari dana, gak usah nunggu pengumuman. Kalaupun gak diterima di internship tapi dananya dapet, ya batalin aja. Jauh lebih mudah membatalkan yang sudah dapat, daripada mencari dalam waktu singkat.

3. Job desc.

Kalau bayar sendiri, tentu pertimbangannya lebih banyak. Salah satu pertimbangan tambahan adalah: Apakah job-desc-nya cukup menarik untuk membuat kita mau membayar sendiri? Menarik disini dalam artian sesuai dengan latar belakang kita; bila tidak, maka sesuai dengan bidang kerja kita skarang; bila tidak, maka sesuai dengan apa yang kita inginkan di masa depan.

Dengan mempertimbangkan ketiga hal itu, dengan berat hati gw memutuskan untuk menolak tawaran internship yang sudah di depan mata. Pertimbangan utama adalah karena gw gak dapet sponsor (berhubung cari dananya salah strategi), dan meskipun mampu bayar sendiri, tapi job-desc yang ditawarkan tidak terlalu menarik kalau diukur berdasarkan 3 kriteria job-desc yang gw sebutin tadi.

Sayang memang, tapi lebih sayang lagi kalau dipaksain tapi nyesel nantinya. Masih akan ada tawaran2 lain di masa depan. Yang jelas, gw cukup bangga bahwa gw pernah diterima untuk magang di markas besar PBB di New York. Artinya, kualifikasi gw cukup oke dong, hihihi.. :D. Kalau jodoh mah gak akan kemana, ya ga?

 


Post a Comment for "Pengalaman Daftar Magang atau Internship di UN PBB"